Minggu, 02 Agustus 2020

Atmosfer Pasar Modal; Perang Melawan Diri Sendiri

Sebagai investor retail tentunya tidak ada kewajiban untuk menentukan batas-batas tertentu dalam men-screening  emiten-emiten yang akan di investasikan, tak seperti layaknya manager investasi yang mengharuskan target-target khusus sehingga sangat berpengaruh terhadap keputusan mereka dalam berinvestasi. Investor retail memiliki keleluasaan waktu maupun tindakan dalam berinvestasi sehingga sangat bebas, tapi saking bebasnya bisa jadi terbawa arus dalam hiruk pikuk pasar modal sehari-hari.

 Cukup prolognya, sekarang mulai cerita bebasnya ya! oce.. lanjut Tanggal 26 Desember 2019 saya membeli Ebook Triwulan III dari Instagrarm @BACASAHAM yang sekaligus pemilik channel Youtube BACA SAHAM. dengan niatan kedepannya saya berharap akan lebih mudah untuk dapat belajar menganalisa fundamental perusahaan dengan metode value investing.

Pada hari yang sama saya langsung dimasukkan grup WA support + grup alumni ebook. Setelah meresapi ebook yang dibuat oleh mimin Chris (Baca Saham) saya memutuskan untuk membeli beberapa saham yang dibahas dalam ebook, dan beberapa lainnya. Setelah beberapa minggu kemudian merebak kabar berita mengenai virus CORONA dari wuhan, tiongkok yang mengguncang dunia tak terkecuali IHSG kena imbasnya juga dari yang sebelumnya 6274 pada awal januari 2020 turun hingga 5884, yakni 6,21% begitupun portfolio saya. Melihat mayoritas emiten dalam portfolio didominasi dengan font berwarna merah tentunya sensasi tersendiri untuk berlatih mental menjadi seorang investor (meski masih retjehan ya) , hal ini dapat menyebabkan susah untuk SWAN (sleep well at night). hehe..

 Ketika harga saham turun, saya average down beberapa saham yang pada akhirnya menguras semua dry powder (uang cadangan) yang ada di RDN -Rekening Dana Nasabah-. Ketika peluru sudah habis dan pasar masih dalam koreksi tidak banyak lagi yang bisa saya lakukan.

Disinilah awal kesalahan saya, karena entah bagaimana bisa seperti secara tidak sadar terbawa arus, tanpa menilai secara mendalam saya membeli emiten yang seharusnya belum saatnya untuk dibeli dan bahkan ada 2 emiten yang asal beli karena melihat koreksi yang menggiurkan, tanpa melihat dan menganalisis terlebih dahulu secara mendalam. Karena ada langkah saya yang salah hingga berujung pada portfolio merah yang dikhawatirkan berkepanjangan karena saya membeli diharga yang "agak mahal" yakni diatas harga wajarnya karena takut kehilangan momen.

Ternyata memang ini sering terjadi pada investor pemula bahkan mungkin umum terjadi pada pelaku pasar modal yang melakukan transaksi harian _trader_. Akui Kesalahan, Lalu Perbaiki Setelah saya membaca literatur tentang warren buffet, beliau pernah membeli tiga lembar saham Cities Services Preferred dengan harga $ 38 per lembar.

Buffett muda bertahan pada saham tersebut meskipun harga turun dengan cepat, menjadi $ 27 per saham, tetapi menjualnya segera setelah saham tersebut kembali naik ke $ 40. Laba kecil Buffett bisa jadi luar biasa jika dia menunggu sedikit lebih lama, karena harga saham Other Services Preferred akhirnya melonjak hingga hampir $ 200 per saham.

Pengalaman tersebut memberikan pelajaran keuangan yang penting, yang telah mengubah gaya Warren Buffett dalam mengambil keputusan investasi sampai hari ini yaitu Beli dan tahan


Perbaikan yang saya lakukan kedepannya adalah terkait Alokasi Aset  yakni mengatur keuangan dalam rangka investasi jangka panjang lebih jelasnya lagi benar-benar mengatur porsi cash dan uang yang sudah diinvestasikan serta diversifikasi yang menguntungkan.

 Ada langkah yang sudah siapkan, namun karena belum terbukti hasilnya makan akan saya share nantinya jika sudah terlihat perkembangan yang bagus kinerja portfolio saya.

Dari Dulu Mau Masuk ke Saham, Tapi..

Lho Kheng Hong pernah mengungkapkan bahwa waktu terbaik untuk mulai investasi di saham adalah 20 tahun yang lalu, jika tidak maka sekarang!.

 Meski kenyataanya beliau memulai berinvestasi di saham ini pada usia 30 tahun. Bukan tanpa alasan, karena kondisi keuangan beliau pada saat itu yang memang terbatas, namun dari keterbatasannya itu ia terbiasa untuk mengatur keuangannya dengan baik alias berhemat untuk memporsikan lebih banyak keuangannya di saham.

Kemudian ketika karirnya membaik ia tetap hidup hemat untuk lebih fokus pada saham dibandingkan investasi di Dollar, emas maupun properti. Sebelum saya mengetahui nama LKH, terlebih dahulu saya mengetahui Andika Sutoro Putra ia sudah berinvestasi di saham pada usia 15 Tahun. Usia Andika masih terbilang muda yakni kelahiran 1994 (usia 25 tahun) ia sudah terbilang sukses mengarungi pasar modal dan terus bertumbuh, sedangkan saya saat tulisan ini dibuat saya sudah berumur 30 tahun.

Ya paling tidak saya sudah mulai sadar akan pentingnya berinvestasi di pasar modal seusia pak LKH yang juga memulai di usia yang ke-30. Dari dulu mau masuk ke Saham, akan tetapi informasi yang dominan saya dapatkan saat itu adalah trading, dan saya sayang tidak suka dengan "trading" karena secara kasat mata sudah sangat terlihat seperti berjudi, meski juga menggunakan analisis secara teknis atau serring disebut analisis teknikal.

Dan ini sebatas suka dan tidak suka dan mengandung Gharar. Nah, pada saat pertama kali saya melihat vide ko Andika Sutoro Putra ini, saya melihat ada dimensi lain dari saham / pasar modal yang belum saya lihat. Meskipun sudah sekian lama ada orang yang duduk di jajaran paling kaya di Amerika serikat sudah mempraktekannya yaitu Warren Buffet. Dalam salah satu video Andika, ia mengenalkan dua asisten pribadinya yang juga ikut berhasil menerapkan metodenya. Dan dari sinilah metode simple yaitu money management  dapat menjadi langkah awal untuk melangkah selanjutnya ke dunia investasi khususnya di pasar modal.

Imbalnya kedua asisten (Kakak beradik) ko Andika kini mampu membeli sebuah mobil BMW. Namun, saya sendiri melihat bukan pada BMW yang didapatkan oleh kakak beradik itu melainkan kegigihannya dan komitmen untuk menjalankan investasi, jadi mobil itu sebagai bagian dari reward atas apa yang selama ini ia tunda.

Dan poin yang dapat diambil adalah "Tunda Kesenangan", nikmati di waktu yang pas dan proporsional. Saya pun makin penasaran dengan metode ini, Googling sana sini ketemulah blog zomiwijaya.com, didalamnya banyak sekali insight dan sangat mudah dicerna oleh orang yang baru pertama kali mengenal saham seperti saya.

Dari Zomi Wijaya, saya mengetahui sosok Analis & praktisi pasar modal yakni Teguh Hidayat, bisa baca lebih lanjut tentang sharing-nya di teguhhidayat.com, selain rutin menulis beliau juga memiliki channel youtube. Melalui salah satu video ada yang menarik, yakni ketika beliau mewawancarai salah seorang sesepuh dunia pasar modal Yakni Pak Joeliardi Sunendar. Ada buku yang sangat bagus yang Pak Joeliardi S tulis yakni, Cara Simpel Berinvestasi di Pasar Modal. Buku ini adalah kumpulan tulisannya di stockbit.com Ternyata saya sudah membuat akun stockbit dari satu tahun yang lalu, dan sudah sempat mengisi form pengajuan membuka akun sekuritas Sinarmas. Namun ternyata depositnya waktu itu 5 juta, jadi saya urungkan dulu waktu itu niatan saya untuk terjun ke saham. karena tahun lalu saya masih belum tahu apa-apa tentang pasar modal ini, dan saat ini masih belajar belum benar-benar memulai. Akhirnya pada 28 November 2019 saya mengirimkan dokumen pendaftaran Akun sekuritas dan RDN (Rekening Dana Nasabah) ke kantor Stockbit.

 


 Dua minggu kemudian akun sekuritas saya aktif, namun belum bisa melakukan transaksi dan setelah saya tanyakan ke CS stockbit ternyata masih harus meunggu 3 s.d 5 hari kerja untuk mendapatkan RDN (Rekening Dana Nasabah)


 

 Sembari waktu menunggu aktivasi RDN, saya membaca buku-buku diantaranya Anak Muda Miliarder Saham, Andika Sutoro Putra. Value Investing: Beat The Market in Five Minutes!, Teguh Hidayat, Cara Simpel Berinvestasi di Pasar Modal & Investasi Saham Ala Fundamentasil Dunia, Ryan Filbert. Berpegang pada Rules Warren Buffet ;
No.1 : Never Lose Money; No.2 : Don't Forget Rule No.1
Dan saya mengeset awal sebagai investor tipe konservatif, meski terbilang saya terbiasa mengambil resiko yang tinggi.

Namun dalam hal ini, saya memulai dengan sangat hati-hati. Sesuai dengan petunjuk Mbah Warren Buffet lagi yang menuturkan bahwa "Risk Comes From Not Knowing What You're Doing" - Resiko itu datang dari ketidak tahuan atas apa yang Anda lakukan. Meski masih bingung dan galau untuk memfilter saham mana yang harus saya invest pertama kalinya, tapi saya harus tetap melangkah. dan untuk jaga-jaga saya memulai langkah ini dengan modal Rp.5.000.000 sembari belajar menyelam makin dalam.

 Ini adalah catatan pribadi dari awal perjalanan saya di dunia pasar modal, semoga Allah mempermudahkan kita dalam perjalanan berinvestasi, dan terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan.

Potensi Turnaround Saham PYFA dalam Jangka Panjang

Potensi Turnaround Saham PYFA dalam Jangka Panjang Berdasarkan data keuangan dan akuisisi Probiotec Australia , ada kemungkinan PYFA bisa m...